Sepotong Cerita tentang Bapak
Masih jelas kuingat sapaanya saat itu, "Ayo bobok siang". Kemudian beliau mengeluarkan sepeda jengkinya atau bahkan pit lanang yang sudah usang, dengan sabar dibujuknya aku agar mau digendong dengan jarik yang sudah tidak kalah usangnya. Bersama kayuhan sepedanya, kadang berbagai rayuan akan dilontarkannya demi dapat membuatku tertidur pulas. Mulai dari ke tempat simbah, beli jajan, atau bahkan makan bakso. Semua itu tidak akan pernah kudapatkan hingga nanti aku terbangun sekali pun. Berkali-kali hal itu terjadi, tetapi aku tidak pernah merasa tertipu. Tidur dalam gendongannya, ditemani alunan merdu suaranya serta sepoi-sepoi angin, sudah mengalahkan semua itu bagiku. Seringkali aku terbangun lagi saat sudah sampai di rumah, dan dengan sabar bapak akan mengulang lagi rute perjalanan kami, bernyanyi lagi dan merayu lagi. Pernah aku penasaran sebenarnya apakah benar kita akan ke rumah simbah, menikmati semangkuk bakso, atau hanya sekedar membeli jajan?? Ku tahan-tahan rasa kantukku, tetapi bapak pun tak mau kalah bersemangatnya. Bapak menambah rute perjalanan kami, semakin bersemangat mengayuh sepeda, semakin merdu saja menyanyikan lagu demi lagu. Ah sepertinya bapak pun tak mau kalah..:) Pada akhirnya aku pun menyerah terlelap dalam buaiannya. Kemudian dapat dipastikan bapak pun segera mengayuh sepeda menuju ke rumah agar aku bisa terlelap dengan nyaman.. Sekian puluh tahun yang lalu namun begitu indah. Sungguh tak akan pernah terkalahkan kesabaran dan kasih sayangnya padaku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar